Sabtu, 02 Mei 2015

Khasiat Belimbing Wuluh pada Pencernaan

EFEKTIFITAS DEKOK BUNGA BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi) SEBAGAI ANTIMIKROBA TERHADAP BAKTERI Salmonella Typhi SECARA IN VITRO Penyakit saluran pencernaan hingga saat ini masih menjadi ancaman masyarakat dan seringkali menimbulkan kematian, terutama pada anak-anak. Ada tiga penyakit saluran pencernaan yang hingga saat ini masih jadi ancaman yakni diare, demam tifoid, dan cacingan (1). Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan yang serius di negara berkembang termasuk di Indonesia (2). Kasus demam tifoid di Indonesia, masih cukup tinggi berkisar antara 354-810 / 100.000 penduduk pertahun bersifat sporadik endemik dan timbul sepanjang tahun. Dari penelitian retrospektif yang dilakukan di Palembang selama periode 5 tahun (1990-1994) didapatkan sebanyak 83 kasus ( 21,5 %) penderita demam tifoid dengan hasil biakan darah Salmonellapositif dari penderita yang dirawat dengan klinis demam tifoid (3). Selain itu, demam tifoid menempati urutan no 8 sebagai penyakit penyebab kematian utama di Indonesia (4). Penatalaksanaan demam tifoid secara medis sampai saat ini masih menganut trilogi penatalaksaan demam tifoid yaitu antimikroba, istirahat dan diet (3). Namun bakteri penyebab demam tifoid ini telah resisten terhadap obat-obatan konvensional. Untuk itu perlu difikirkan pengobatan alternatif ataupun pengobatan pendamping yang efektif dan efisien serta aman dan cukup murah akan tetapi tetap berorientasi pada standar pelayanan kesehatan yang telah ada. Pengobatan pendamping yang dimaksud antara lain adalah dengan menggunakan ramuan tradisional yaitu dengan menggunakan bahan-bahan tradisional. Belimbing wuluh dikenal cukup baik di masyarakat Indonesia. Buahnya yang asam membuat belimbing wuluh kerap digunakan sebagai bahan campuran dalam berbagai masakan tradisional. Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) memiliki rasa yang khas dan memberikan aroma tertentu pada masakan (5). Manfaat belimbing wuluh ternyata tak hanya sebatas itu. Tanaman ini memiliki berbagai khasiat obat yang bisa sangat membantu. Bunga belimbing wuluh selain sebagai obat batuk, juga bisa digunakan sebagai obat pegal linu, gondongan, rematik, sariawan, jerawat, panu, darah tinggi, dan sakit gigi (5). Selain itu tanaman ini juga dapat menyembuhkan sakit perut, diare, gangguan pencernaan, radang rectum (6, 7). Belum ada bukti ilmiah apakah bunga belimbing wuluh sebagai ramuan obat khususnya dapat digunakan sebagai pengobatan alternatif untuk mengobati penyakit demam tifoid. Untuk itu perlu dilakukan suatu penelitian untuk mendapatkan dasar teoritis dan bukti-bukti ilmiah tentang penggunaan bunga belimbing wuluh dalam mengobati penyakit demam tifoid. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan penelitian mengenai efektivitas bunga belimbing wuluh sebagai antimikroba terhadap bakteri Salmonella typhi penyebab penyakit demam tifoid. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan dekok bunga belimbing wuluh sebagai antimikroba terhadap bakteri Salmonella typhi. Sedangkan tujuan khusus dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai KHM (Kadar Hambat Minimum) dan KBM (Kadar Bunuh Minimum) dari dekok bunga belimbing wuluh terhadap bakteri Salmonella typhi serta untuk mengetahui hubungan antara jumlah koloni yang tumbuh pada pemberian konsentrasi yang berbeda dari dekok bunga belimbing wuluh. Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah memberikan informasi kepada masyarakat bahwa bunga belimbing wuluh dapat digunakan sebagai pengobatan alternatif terhadap penyakit demam tifoid, ditemukannya bahan antimikroba yang murah dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat dan memberikan dasar pengembangan ilmu pengetahuan tentang manfaat tanaman obat dalam hal ini bunga belimbing wuluh bagi kesehatan. Hipotesis dari penelitian ini bahwa bunga belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) memiliki daya antimikroba terhadap Salmonella typhi dan pemberian konsentrasi berbeda bunga belimbing wuluh mempengaruhi pertumbuhan koloni Salmonella typhi yaitu semakin tinggi konsentrasi bunga Belimbing wuluh akan menyebabkan pertumbuhan koloni bakteri Salmonella typhi semakin rendah. Dari hasil penelitian yang dilakukan untuk mengetahui efektifitas dekok bunga belimbing wuluh (Averhoa bilimbi) sebagai antimikroba terhadap bakteri Salmonella typhi secara in vitro. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dilusi tabung untuk menentukan adanya Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM). Sediaan dekok bunga belimbing wuluh yang digunakan dalam penelitian ini dibuat dari bunga belimbing wuluh yang masih segar. Bunga belimbing wuluh dapat dengan mudah diperoleh dari pekarangan sekitar rumah sehingga diharapkan penerapan hasil penelitian ini lebih mudah bagi masyarakat. Pada penelitian ini dibuat konsentrasi awal dekok bunga belimbing wuluh sebesar 50% yang berarti dalam 50 gram bahan bunga belimbing wuluh ditambahkan aquadest steril sebanyak 100 ml. Dalam penelitian ini digunakan 4 isolat bakteri Salmonella typhi yang berasal dari penderita demam tifoid dan disimpan oleh Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Kepadatan bakteri Salmonella typhi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 104 bakteri/ml. 10 Kepadatan sel bakteri diukur dengan menggunakan alat spektrofotometer pada panjang gelombang 600 nm. Penelitian ini menggunakan enam konsentrasi dekok bunga belimbing wuluh yang berbeda yaitu 0%; 5%; 7,5%; 10%; 12,5%; dan 15% sebagai rentang konsentrasi yang dianggap mewakili. Keenam konsentrasi tersebut diperoleh berdasarkan percobaan pendahuluan (eksplorasi awal) yang telah dilakukan sebelummya sehubungan dengan belum diketemukannya referensi yang mendukung mengenai konsentrasi dekok bunga belimbing wuluh yang dipakai dalam penelitian. Setelah dilakukan penelitian dengan metode dilusi tabung, didapatkan hasil bahwa Kadar Hambat Minimum (KHM) terhadap bakteri Salmonella typhi ditunjukkan oleh larutan dekok bunga belimbing wuluh dengan konsentrasi 10%. Pada konsentrasi 10% larutan dekok bunga belimbing wuluh tampak jernih dan bila dibandingkan dengan kontrol bahan menunjukkan kejernihan yang sama. Pada konsentrasi yang lebih rendah yaitu pada konsentrasi 7,5%; 5%; 0% menunjukkan kekeruhan dengan tingkat yang berbeda. Sedangkan pada konsentrasi 12,5%, dan 15% larutan tampak jernih seperti pada konsentrasi 10% dan kontrol bahan. Kadar Bunuh Minimum (KBM) diperoleh dari penanaman perparat dilusi tabung pada Bismuth Sulfite Agar (BSA). Pada penelitian ini diperoleh Kadar Bunuh Minimum (KBM) adalah pada konsentrasi 12,5% dimana sudah tidak terdapat petumbuhan koloni pada BSA setelah diinkubasikan selama 18-24 jam pada suhu 37° C. Pada konsentrasi 10% belum dapat dikatakan sebagai KBM dikarenakan masih ada isolat bakteri yang menunjukkan jumlah koloni cukup besar (Isolat II, 1368 koloni). Hasil dari penelitian ini ternyata dapat membuktikan hipotesis yang diajukan, yaitu dekok bunga Belimbing Wuluh memiliki daya antimikroba terhadap bakteri Salmonella typhi (Anova, p = 0,000; R = -0,749; R2 = 0,982). Daya antimikroba bunga belimbing wuluh ini disebutkan oleh karena adanya bahan-bahan aktif yang terkandung di dalamnya yang berperan utama dalam menghambat pertumbuhan maupun membunuh bakteri Salonella typhi. Bahan aktif tersebut diantaranya adalah saponin, polifenol dan flavonoids. Saponin adalah senyawa penurun tegangan permukaan yang kuat yang menimbulkan busa bila dikocok dalam air. Sifat saponin menyerupai sabun (bahasa latin sapo berarti sabun). Saponin bekerja sebagai antimikroba dengan mengganggu stabilitas membran sel bakteri sehingga menyebabkan sel bakteri lisis. Polifenol bekerja melalui penghambatan enzim mikroorganisme oleh bagian senyawa yang teroksidasi, kemungkinan melalui reaksi dengan gugus sulfhidril atau melalui interaksi yang non spesifik dengan protein mikroorganisme. Selain itu polifenol juga dapat menyebabkan denaturasi protein bakteri (15). Flavonoid berefek antimikroba melalui kemampuan untuk membentuk kompleks dengan protein ekstraseluler dan protein yang dapat larut serta dengan dinding sel bakteri (13). Dalam penelitian ini digunakan metode dekok yaitu preparasi atau proses penyaringan bahan aktif bunga belimbing wuluh menggunakan aquadest steril dengan pemanasan di atas penangas air, sehingga bahan-bahan aktif yang berperan sebagai antimikroba yang terkandung dalam bunga belimbing wuluh kemungkinan merupakan bahan aktif yang mempunyai sifat larut dalam air yaitu senyawa saponin, flavonoid dan polifenol (13). Peneliti lain juga telah menguji daya antimikroba bunga belimbing wuluh terhadap bakteri lain, diantaranya adalah bakteri Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli (E.coli), Methicillin Resistant Stapylococcus aureus (MRSA) (16,17). Didapatkan hasil bahwa KHM dan KBM bakteri Pseudomonas aeruginosa pada konsentrasi 10% sedangkan KHM untuk bakteri E.coli dan MRSA didapatkan pada konsentrasi 15%. KBM bakteri MRSA terdapat pada konsentrasi 25%, sedangkan untuk bakteri E.coli tidak ditemukan KBM. Hal ini kemungkinan disebabkan adanya variasi sifat yang khas pada masing-masing bakteri tersebut. Berdasarkan dari hasil penelitian peneliti lain yang menguji efektifitas bunga belimbing wuluh terhadap bakteri diatas ternyata bunga belimbing wuluh cukup efektif sebagai antimikroba untuk bakteri Salmonella typhi, E.coli, MRSA dan Pseudomonas aeruginosa yang mewakili dari golongan Gram (+) dan Gram (-). Namun masih perlu dilakukan penelitian lain yang menguji bakteri golongan Gram (+) dan Gram (-) lainnya. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dekok bunga belimbing wuluh efektif sebagai antimikroba terhadap bakteri Salmonella typhi secara in vitro, makin tinggi konsentrasi dekok bunga belimbing wuluh maka semakin rendah pertumbuhan bakteri Salmonella typhi dan Kadar Hambat Minimum (KHM) larutan dekok bunga belimbing wuluh terhadap bakteri Salmonella typhi pada konsentrasi 10%, sedangkan Kadar Bunuh Minimum (KBM) larutan dekok bunga belimbing wuluh terhadap bakteri Salmonella typhi adalah pada konsentrasi 12,5%. Setelah terbukti bahwa dekok bunga belimbing wuluh efektif sebagai antimikroba terhadap bakteri Salmonella typhi secara in vitro, maka dapat disarankan Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai bahan aktif di dalam bunga belimbing wuluh terutama yang berefek sebagai antimikroba, agar diperoleh bentuk sediaan isolasi murni dari bahan aktif tersebut serta diperlukan penelitian secara in vivo untuk mengetahui berapa dosis yang aman untuk dikonsumsi sebagai antimikroba alternatif yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi.

5 komentar:

  1. Terimakasih informasinya bermanfaat sekali

    BalasHapus
  2. Terimakasih informasinya bermanfaat sekali

    BalasHapus
  3. Informasi yang sangat bagus untuk menambah wawasan, well done

    BalasHapus
  4. Infonya sangat berguna,ditunggu info selanjutnya

    BalasHapus
  5. Infonya bagus, cuma tolong dirapikan lagi aja :)

    BalasHapus